Mengenal First/Last Mile dalam Transportasi Publik

By Padu Padan Kata - 2:37 PM


Hidup sebagai masyarakat yang bercokol di luar batas administratif DKI Jakarta namun sebagian besar aktivitas berada di DKI Jakarta membuat keberadaan sebuah moda angkutan yang dapat diandalkan untuk menuju pusat kota akan sangat membantu mobilitas saya. Syukurlah, perusahaan daerah yang berkonsentrasi pada pelayanan transportasi di Jakarta beberapa tahun terakhir sudah berani menjangkau daerah pinggiran Jakarta hingga melampaui batas administrasi. Namun kebingungan melanda ketika kaki sudah menjejakkan titik pemberhentian terakhir sebelum tiba di rumah. Dari sini, naik apa ya?
Apabila mengasosiasikan mobilitas warga di dalam sebuah kota sebagai alur distribusi barang, maka sebaik-baiknya distribusi barang adalah barang tersebut mampu sampai ke tangan konsumen dengan kondisi baik dan cepat. Ketiadaan model distribusi yang memadai justru akan menjadi penghambat berkembangnya perusahaan. 
Sebagai contoh, perusahaan Padu berfokus pada produksi Jus Pandan. Proses produksi dan distribusi berjalan dengan lancar hingga tahap distribusi  agen tingkat akhir. Namun dikarenakan distribusi barang dari agen ke toko ritel tidak terkoordinasi dengan baik dikarenakan m, maka produk tersebut gagal sampai ke tangan konsumen. Perusahaan pun merugi, lalu kolaps. Lalu karena perusahaan Padu bangkrut, maka terjadilah perang dunia.
Hahaha lebay
Inilah yang disebut dengan Last Mile pada sebuah produksi. Sebuah langkah akhir yang mungkin terlihat sepele, namun pada hakikatnya memiliki derajat yang tidak kalah penting dengan tahapan-tahapan produksi dan distribusi lainnya. Perusahaan yang sudah jor-joran membuat berbagai inovasi serta riset, didukung dengan peralatan produksi yang canggih dan mumpuni; pada akhirnya akan kalah dengan produk yang mampu menjangkau konsumen.
Hmmm, masih bingung apa hubungannya sama transportasi publik? Untuk itu, yuk kita kenalan sama Mile bersaudara.
***
Firsto dan Lasto Mile merupakan kembar bersaudara yang mengetahui seluk beluk mobilitas ibukota. Keduanya merupakan anak dari pasangan Bapak Chamo Mile dan Ibu Sem Mile. Wawancara dilakukan setelah sebelumnya Firsto menolak untuk membeberkan informasi. Untung saja, Lasto yang memiliki ketulusan hati paripurna, bersikeras untuk memberitahukan hal ini (memang baik betul Last Mile ini). Mau tidak mau Firsto pun mengikuti kehendak kembarannya.

Oom Padu (P) : Halo Firsto! Halo Lasto! Saya Oom Padu dari situs Padu Padan Kata, bisa dijelaskan kah apa sih First dan Last Mile (F/L Mile) dalam transportasi itu?
Firsto (F) : [Menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal sambil malas-malasan]
Lasto (L) : Oh iya maaf Oom, abang saya memang sedang tidak enak badan, kemarin begadang main pabji. Jadi kita ini gampangnya adalah tahap awal atau akhir dari mobilitas orang-orang. Nah terus, orang-orang kan banyak tuh ya yang naik kendaraan umum, tapi kebanyakan bingung pas udah mau sampai tujuan. Dari situ gimana ya caranya ke tempat tujuan?
P : Oh iya, sama. Tadi saya juga bingung, abis turun dari Transjak kesininya gimana ya. Nah terus masalahnya apa sih yang biasanya ada?
F : [Menggaruk-garuk ketiak yang basah karena keringat]
L : HEH GARUK-GARUK KETEK! [Menepuk Firsto yang masih asyik hingga Firsto sedikit ngambek] Nah iya. Tentu aja nggak semua titik pemberhentian pas tepat plek di tujuan akhir yang diinginkan. Bisa saja lokasi tujuan berada 500 meter, 750 meter, atau bahkan 2 km. Contohnya rumah kami yang jarak terdekat dengan titik pemberhentian bisa 2.1 kilo.
[Lasto nampak berdiskusi sejenak dengan Firsto. Setelahnya, Firsto mulai bisa ditenangkan]
L : Nah, dengan kondisi kayak gitu, maka perlu lah disediakan sarana untuk mewadahi mobilitas masyarakat di mil akhir atau awal perjalanan mereka. Hmmm, contohnya kayak….
F : [Sambil mengupil] Kayak ini loh mas, kayak trotoar yang gede-gede dan nyaman. Terus ada jalur sepeda buat pengguna transportasi umum yang kadang-kadang suka bawa sepeda atau skuter listrik ngiuuuuuuu [Firsto menirukan suara pesawat]
[Oom padu menatap Lasto dengan tatapan bingung, Lasto memberikan kode tidak usah dipedulikan]
P : Ooh gitu toh [manggut-manggut]. Nah lanjut lagi ya, terus dalam kasus transportasi umum nih, kenapa sih penting buat diidentifikasi F/L Mile ini?
L :  Gini Oom, kita ini sangat erat kaitannya dengan kemudahan orang-orang untuk menjangkau transportasi umum. Kalau awal atau akhir perjalanan kita saja ujung-ujungnya sulit dan ga nyaman, mendingan gausah dipake kan ya Oom?
F : [Masih mengupil, terlihat gumpalan besar upil keluar dari hidung Firsto] Nah iya betul tuhhh. Contohnya ya kasus perusahaan Padu yang memproduksi Jus Pandan itu tuh Oom. Kan dia bangkrut karena gagal meraih pasar. Nah, kalo diibaratin transportasi, yaa semakin gampang orang mengakses transportasi publik itu, maka semakin banyak yang minat. Malah khawatirnya kegagalan kita menyediakan fasilitas penunjang perjalanan F/L Mile ini bisa berpeluang menghambat perkembangan transportasi publik di kota.
[Firsto mencoba ingin bertanya, namun sepertinya agak ragu]
F : Oom, lagian ngapain sih orang jualan Jus Pandan?
P : Hehehe Oom juga gatau. Ngasal aja tadi [Membetulkan kerah]. Nah pertanyaan selanjutnya nih buat kalian. Kan kalau di literatur-literatur kebanyakan perjalanan F/L Mile seringkali diasosiasikan sebagai aktivitas yang sifatnya non-motorized, apakah kondisi yang sama juga dapat diterapkan di Indonesia?
F : [Berbisik kepada Lasto] Asosiasi itu apaan sih?
L : [Menghiraukan Firsto] Hmmm iya sih Oom, kami menyadari bahwa nggak selamanya apa yang kita baca dari literatur-literatur luar dapat diaplikasikan di Indonesia. Lagipula kami juga sadar bahwa faktor kebiasaan itu bukan faktor yang bisa disingkirkan begitu aja dari sebuah perencanaan. Misalnya nih Oom, kemarin kan orang-orang Indonesia sempat tuh dinobatkan sebagai masyarakat yang paling malas berjalan kaki di dunia. Nah terus… [Melirik ke arah First]
F : …Gak bisa lah kita langsung plek blek mengadopsi standar-standar yang ada di barat. Misalnya terkait jarak antar titik pemberhentian, maka jarak antar titik pemberhentian disesuaikan dengan radius antara jangkauan rata-rata masyarakat Indonesia.
L : Betul tuh. Atau bisa juga membuat rute ekstra yang menyisir area blank spot dari jangkauan berjalan rata-rata masyarakat. Yaa opsi ini agak sulit sih memang, karena setidaknya perlu membuat analisis-analisis lain seperti misalnya 4 Step Travel Model. Nanti kita jelasin om kapan-kapan tentang 4 step ini.
F : [Menyeruput Kopi Luwak yang nikmat nggak bikin kembung] Selain itu ada lagi sih Oom…
P : Oh ya? Boleh dikasih tahu kah?
F : Hmm iya, jadi menurut kami pula, kebiasaan masyarakat yang masih bergantung pada kendaraan pribadi juga harus diakomodasi dalam penyediaan sarana untuk menunjang F/L Mile ini nih. Misalnya [Firsto bersendawa, ternyata ia kembung]
F : ….Aduh maaf perut saya kembung. Masyarakat yang mau berangkat menuju titik keberangkatan angkutan dengan kendaraan pribadi dapat disediakan tempat parkir atau area drop-off yang memadai di samping dengan menyediakan sarana yang cukup bagi masyarakat non-motorized. Tentunya ke depan, seiring dengan berbagai kebijakan pengetatan penggunaan kendaraan pribadi, harapannya jumlah masyarakat non-motorized semakin bertambah juga, Oom.
P : [Menggeleng-geleng sambil terpukau] Hmmm sepertinya sudah cukup nih menurut Oom. Ada kata-kata terakhir ga dari kalian?
L : [Sambil menyeruput Teh Pucuk Harum, rasa teh terbaik ada di pucuknya] Yaaa, meskipun mungkin kita terlihat hanya sebagian kecil dari berjuta-juta kilometer perjalanan masyarakat kota tiap harinya, kita ini tetap merupakan bagian dari perjalanan masyarakat harian ibukota, Oom. Jadi jangan dianggap sepele hanya karena kita dianggap bukan aktor utama dari penyediaan transportasi publik. 
F : Iya Oom, kelihatannya itu saja. Sepakat saya sama Lasto.
P : Wah sebuah diskusi yang menarik. Terima kasih banyak atas waktunya.
***

Wawancara diakhiri dengan foto bersama. Memang tidak menarik dan tidak cukup berisi saya rasa. Tapi tidak apa-apa, semoga bisa memberikan pencerahan tentang pentingnya perjalanan first dan last mile dalam transportasi publik.
Ngomong-ngomong, bingung kenapa Firsto bisa cepat berubah? Saya juga ga tau. Ya sudah diterima saja ya.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments