Salim, Sebuah Hikayat

By Padu Padan Kata - 11:17 AM

Buat saya, salah satu tradisi yang paling “Indonesia” adalah salim. Prosesi jabat tangan, yang biasanya ditambah dengan menempelkan kening/pipi ke punggung tangan orang yang lebih tua ini, jelas merupakan tradisi yang tetap lestari sejak sebelum era kumpeni hingga era youtuber “ASHIAPPP” masa kini. Maksudnya, siapa sih orang Indonesia yang belum pernah salim sampai sekarang?

Salah satu momen salim paling akbar, paling gegap gempita, dan paling raya adalah Lebaran. Sebelum mencicipi hidangan yang tersedia bersenda gurau dengan saudara-saudara atau tetangga, orang tua pasti langsung menyuruh untuk salim terlebih dahulu. “Heh, ayo sana salim dulu!” Sementara itu, kerabat orang tua atau tetangga sudah menyiapkan punggung tangan untuk ditempeli jidat saya dengan beragam pertanyaan yang sudah disiapkan. 

Saya pun juga sudah membawa kopekan jawaban dari pertanyaan yang mungkin ditanyakan. Hahaha tidak semudah itu, Bambank

Prosesi salim ketika Lebaran ini pun terkadang menjadi momen yang paling merepotkan, pasalnya yaaa karena memang saya selalu memposisikan diri sebagai juru eksekusi deretan kue Lebaran. Selain harus bergulat dengan deretan toples kue Lebaran, saya punya prinsip bahwa kue lebaran ini memiliki keistimewaan dibanding kue lainnya, yakni harus habis hingga serbuk-serbuknya. Apalagi kue putri salju favorit saya.

Masalah timbul ketika ada kerabat yang datang terlambat.

Karena salim ini adalah kegiatan mandatori, maka harus sesegera mungkin dilaksanakan. Biasanya untuk mempersingkat waktu, saya langsung mengelap tangan dengan apapun yang ada di sekitar saya. Baju, celana, syukur-syukur ada tissue.


Namun sial bagi orang yang saya salimi karena turut “menikmati” sisa-sisa serbuk-serbuk kue yang lengket di tangan saya. Saya pun juga ikut sial, karena kenikmatan kue lebaran yang sedang saya nikmati jadi anjlok karena “gumpalan” serbuk-serbuk kue yang sudah susah-susah saya kumpulkan terpaksa saya bersihkan.
***
Selain simbol penghormatan, salim pun juga identik dengan kegiatan keagamaan dan silaturahmi. Meskipun hanya sekadar berjabat tangan tanpa menempelkan kening di punggung tangan, kegiatan salim ini dimaknai sebagai cara untuk mempererat rasa persaudaraan umat. Salah satu momen yang (juga) paling akbar adalah ketika shalat jumat di masjid dekat rumah saya.

Sebelum azan, biasanya jamaah akan melaksanakan salat sunnah terlebih dahulu. Sesaat setelah mengakhiri salat, jamaah langsung akan bersalaman dengan jamaah lain. Bagi penganut paham minimalis, maka target salim adalah jamaah yang berada di kanan-kiri. Namun bagi jamaah yang menganut paham “The More The Merrier”, jumlah jamaah yang disalami bisa mencakup hampir seluruh area sajadah. Detilnya sih seperti ini kira-kira.
Hebatnya masjid saya, salim ini dilakukan bukan hanya kepada orang yang dikenal saja, namun kepada siapapun asalkan masih berada di jangkauan. Saya yang ketika Jumatan sering menundukkan kepala dan memandangi sajadah secara khidmat, tetap dicolek lututnya untuk diajak untuk salim.

Saya mengamati, ada satu kebiasaan unik yang selalu saya perhatikan di salim orang Indonesia. Biasanya setelah saling bersalaman, masing-masing pihak akan secara otomatis menempelkan tangannya ke dada. Namun tidak menempelkan seluruh permukaan telapak tangan seperti layaknya timnas menyanyikan lagu kebangsaan, hanya ujung-ujung jari yang menempel di dada. Seperti memasukkan sesuatu ke dalam dada. Saya menyebutnya “memasukkan keberkahan ke dalam jiwa”. 
Gestur penting dalam salim selain menempelkan jari sehabis salim
Entah mengapa, kebiasaan ini terus berlanjut hingga sekarang. Saya yang selalu membatin kepada diri "Lu ngapain sih nempel-nempelin ke dada?" pun tidak kuasa menahan ayunan tangan saya untuk menempel di dada sehabis bersalaman. Tidak tahu, rasanya seperti ada yang kurang.

Masih dari kisah salim di masjid dekat rumah saya. Sebagai informasi, masjid dekat rumah saya ini merupakan masjid yang cukup ramai dengan bocah karena memang lokasinya yang berdekatan dengan sekolah. Pernah suatu saat ketika salat Jumat saya duduk di samping seorang bocah, sebut saja Boni. Boni yang tidak saya kenal ini, sepanjang khutbah selalu merunduk ke sajadah. Melihat perawakannya yang cukup gempal seperti Russel di film “UP”, saya pun kagum dengan elastisitas Boni ini yang mampu mencium sajadah dalam posisi bersila.

Di dalam benak, saya mengira Boni ini tertidur. Eh tapi kok tidur badannya bergoyang-goyang aneh? Ternyata…

BONI DENGAN KHIDMATNYA SEDANG MENGGIGIT-GIGIT KUKU JEMPOL KAKINYA!

Bajilak!

Sangat jarang saya menemukan bocah yang senang mempertemukan antara mulut dengan kaki. Terakhir kali saya menemukan fenomena aneh ini adalah ketika saya SD. Teman SD saya yang unik ini senang melakukan kebiasaan menjilat telapak kakinya. TELAPAK KAKI. Ia pun bahkan pernah mengajak saya melakukan kebiasaan “unik” ini.

“Asin, loh. Enak,” katanya masih dengan tatapan penuh harap agar saya mengikuti kebiasaannya.

Kembali ke Boni. Karena mengingat teman SD yang mengajak saya melakukan kebiasaan nestapa unik ini, saya memalingkan muka dari Boni. Biarlah Boni asyik dengan aktivitas dan kreativitasnya dengan jempol kakinya.

Salat Jumat pun berlangsung dengan saya yang masih bersebelahan dengan Boni. Setelah salat Jumat berakhir, saya pun mengikuti doa-doa yang dilantunkan imam. Tiba-tiba ada yang mencolek saya.

Si Boni mengajak bersalaman

Teringat jutaan kuman bercampur liur yang berpindah secara abnormal dari mulut dan kaki Boni ke jemari yang digunakannya untuk memosisikan jempol kakinya ke posisi ideal. Agak ragu untuk menerima uluran tangan si Boni.

Batin saya berontak

Si Boni tetap menyodorkan tangannya kendati saya belum menyambut ajakannya. Pada akhirnya saya pun luluh. Saya sambut uluran tangan si Boni. Ia pun menyalami saya dengan menempelkan keningnya ke punggung tangan saya.
Saya tertegun. Tidak terasa secara otomatis ujung jari tangan kanan saya menempel di dada.

Sepulang dari masjid, fokus pertama saya adalah sabun.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments