Ojek Vs Angkot

By Padu Padan Kata - 9:13 PM


Sejak “berseliweran” di jalan raya selama hampir 1 dekade terakhir, tanpa disadari ojek dalam jaringan (daring) menjadi pemain serius dalam kancah mobilitas masyarakat urban. Ojek yang dulunya hanya dianggap sebelah mata karena identik dengan kendaraan masyarakat kelas bawah dan tarif “getok”, kini dimaklumkan menjadi salah satu moda transportasi yang paling efisien saat ini.

Anda mungkin salah satu warga yang menganjurkan teman atau kerabat anda untuk menggunakan aplikasi ojek daring. “Udah Goj*k/Gr*b aja,” adalah ungkapan yang saya rasa paling kental dilontarkan apabila teman atau kerabat anda menanyakan bagaimana cara untuk menuju suatu tempat. Berbeda halnya dengan 10-15 tahun lalu, dimana ketika anda di posisi sebagai pihak yang dimintai petunjuk.

“Nah, elu ntar naik bus XX ya sampe di sini. Terus turun lampu merah mi bakso, nyebrang dikit aja. Terus naik mikrolet biru sampe depan gapura, dari situ naik mikrolet merah sedikit sampe gang YY. Bayar 2.000 aja, deket gitu. Abis itu jalan yak”

Meh...

“Predator” Bagi Angkutan Kota
Secara fungsi, apabila tidak mengindahkan peraturan yang mengatakan bahwa sepeda motor bukanlah angkutan penumpang, ojek ini dapat diklasifikasikan sebagai angkutan umum non trayek. Sifatnya yang fleksibel dan tidak terkekang oleh rute, membuatnya memiliki sifat seperti taksi dan bus carter, dan angkutan umum non trayek lainnya. Dengan kondisi ini, jelas ojek memiliki keunggulan dibandingkan angkutan kota dalam trayek dari segi rute karena bersifat point to point ketimbang sifat pool to pool milik angkutan kota. Di era serba cepat seperti sekarang, mana ada sih yang mau menghabiskan waktu berjam-jam di jalan?

Masalahnya (saya sebut masalah meskipun juga merupakan keuntungan), guna menarik minat konsumen, operator ojek daring kerap memberikan promo berupa potongan tarif yang luar biasa. Dua pemain besar ojek daring ini seakan-akan tidak pernah kehabisan promo. Bukan sekali atau dua kali saya mendapatkan promo yang dapat membuat saya berpindah dari satu tempat ke tempat lain secara gratis. Yak, G-R-A-T-I-S saudara-saudara!

Meskipun saat ini promo yang dimaksud sudah tidak lagi semasif beberapa saat yang lalu, model Sharing Economy yang dianut kedua operator ini memang tanpa disadari  menurunkan “harga keekonomisan” dari ojek di masa lalu. Untuk tarif per km saja, kedua operator hanya mematok Rp 2.200 - Rp 3.300 per km yang didasarkan pada jam sibuk. Tarif ini pun belum termasuk potongan tarif yang dibonuskan dari masing-masing operator. Singkat cerita, tarif ojek daring saat ini berada di posisi yang membahayakan bagi kelangsungan angkutan kota di DKI Jakarta dan sekitarnya.
Perbandingan tarif Angkutan Kota dan Ojek Daring tahun 2018
Mengapa membahayakan? Sebab, peran dari ojek sendiri sekarang mengalami pergeseran. Dari awalnya sebagai angkutan lingkungan pengumpan menuju jalur transportasi terdekat, kini ojek daring berperan menjadi angkutan “dalam kota” yang juga ikut bersaing di jalur-jalur yang dilayani angkutan kota. Dengan komparasi total tarif yang mungkin tidak terlalu jauh dan kemudahan yang ditawarkan ojek daring, kedua faktor ini menjadikan ojek daring ancaman serius bagi angkutan kota.

Angkutan kota non BRT seperti mikrolet dan bus sedang pun berada pada posisi yang kurang menguntungkan. Stigma masyarakat yang mengasosiasikan angkutan kota sebagai angkutan yang tidak nyaman dan tidak dapat diandalkan masih terpatri dalam-dalam. Memang, pada beberapa rute, DKI Jakarta sudah menciptakan sistem baru berupa Jak Lingko yang mengintegrasikan pembayaran antara Transjakarta dan beberapa rute angkutan kota non Transjakarta. Namun saya masih merasa bahwa Jak Lingko masih cenderung asing bagi masyarakat selain juga karena masih banyak rute yang belum tergabung dalam Jak Lingko, khususnya rute angkutan yang berada di luar area DKI Jakarta.

Kita pun juga tahu, bahwa kebanyakan angkutan kota di DKI Jakarta (selain yang tergabung dalam Jak Lingko) masih milik perorangan, yang mana sistem yang diterapkan adalah sistem setoran. Pendapatan sopir jelas sangat bergantung dari jumlah penumpang hari itu. Semakin sedikit jumlah penumpang yang naik, maka semakin sedikit pula pendapatan yang didapatkan. Lambat laun, kondisi ini juga mempengaruhi jumlah armada yang hilir mudik karena demand dari angkutan kota juga mengalami penurunan (simak obrolan saya dengan salah satu sopir angkot M06A dalam Setoran).

Pada akhirnya, ojek yang dahulu dipandang sebelah mata, kini menjadi raksasa baru di transportasi ibu kota menggantikan keberadaan angkutan kota yang kalah bersaing.

Mengembalikan Segmentasi Ojek Daring-Angkutan Kota
Apabila berpatokan pada kondisi ideal perkotaan dimana masyarakat seharusnya bergantung pada angkutan umum sebagai moda transportasi utama, mungkin kondisi saat ini masih dirasa kurang ideal. Menggantungkan mobilitas masyarakat kepada ojek daring, jelas merupakan kemunduran perkembangan kota yang mana trennya saat ini menuju kota yang berbasis angkutan umum.
Opsi Moda Angkutan
Ojek daring dalam hal transportasi penumpang jelas memilki banyak kekurangan. Pertama dari segi penggunaan ruang jalan. Meskipun dimensinya kecil, namun apabila diakumulasikan dalam jumlah besar, sepeda motor justru memakan ruang jalan lebih banyak ketimbang bus berukuran besar. Yang kedua, dari segi lingkungan karena gas buang kendaraan bermotor akan semakin bertambah dengan semakin banyaknya kendaraan. Serta yang ketiga dari segi keselamatan penumpang karena sepeda motor sendiri memiliki tingkat keselamatan paling rendah dibanding kendaraan lainnya. Masih banyak lain hal-hal yang sebenarnya menjadi kekurangan sepeda motor apabila menjadi moda transportasi yang digantungkan oleh masyarakat kota.

Oleh karena itu, gagasan pemerintah untuk mengeluarkan regulasi tarif bawah dan atas ojek daring, menurut saya merupakan gagasan yang cukup aplikatif untuk mengembalikan segmentasi angkutan kota dan ojek daring yang hilang karena penurunan harga keekonomisan, di samping menjamin kesejahteraan pengemudi. Peraturan yang berlaku mulai 1 Mei 2019 ini nantinya akan menambah komponen Biaya Jasa Minimal sebesar Rp 8.000 - 10.000 (Jabodetabek) untuk 4 km pertama. Ingat, tarif ini merupakan besaran uang yang akan diterima pengemudi, belum termasuk 20% biaya yang dikenakan oleh operator. Alhasil, akan ada kenaikan tarif sebesar 30-40% dari tarif biasa yang dibebankan pelanggan ojek daring. Dampaknya? Harga keekonomisan ojek daring akan kembali ke segmen tarif yang berbeda dengan angkutan kota.
Regulasi Tarif Batas Bawah dan Atas Ojek Daring mulai 1 Mei 2019
Angkutan kota jelas tidak dapat mengalahkan efisiensi dari ojek daring yang bersifat point to point. Namun dengan tarif yang lebih murah setelah dilakukan penerapan regulasi tarif batas bawah dan atas ojek daring, ditambah jangkauan yang lebih luas, angkutan umum jelas memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan ojek daring. Semakin tingginya tarif ojek pun membuat masyarakat menjadi semakin selektif dalam memilih rute perjalanan, salah satunya mengurangi pemakaian ojek daring hingga sebatas angkutan jarak pendek dan pengumpan ke angkutan kota terdekat. Pada akhirnya, segmentasi angkutan di DKI Jakarta akan menjadi seperti ilustrasi ini:
Segmentasi Antara Angkutan Kota - Ojek Daring - Taksi/Taksi Daring
***
Ojek daring tentu untuk saat ini tidak dapat dipisahkan dari mobilitas perkotaan. Terlebih lagi dengan kondisi lalu lintas saat ini yang semakin semrawut, keberadaan ojek daring jelas sangat membantu.  Namun, kita juga tidak boleh lupa bahwa angkutan kota yang sudah ada perlu mendapat perhatian serius karena kota yang semakin berkembang akan juga memerlukan angkutan kota untuk terus berkembang.

Upaya DKI Jakarta mengintegrasikan pembayaran angkutan kota melalui Jak Lingko pun patut diapresiasi. Setidaknya, masyarakat memiliki opsi untuk bermobilitas dengan biaya yang flat sesuai ketentuan yang berlaku. Akan tetapi, keberadaan Jak Lingko sebagai ekosistem baru transportasi di DKI Jakarta tidak akan berhasil apabila kebiasaan-kebiasaan buruk angkutan kota masih belum ditinggalkan.

Diharapkan, dengan kembalinya segmentasi antar angkutan ini, angkutan massal akan kembali lagi menjadi opsi utama masyarakat dalam bermobilitas. Hingga pada akhirnya, lalu lintas kota akan semakin "ramah" terhadap penggunanya. Kita lihat saja~

  • Share:

You Might Also Like

0 comments