Berbahasa Dengan Qalbu

By Padu Padan Kata - 2:47 PM

Sebagai insan yang tumbuh dan berkembang di dalam lingkungan penutur bahasa Indonesia, saya dihadapkan dengan kenyataan bahwa menguasai bahasa lain selain bahasa Indonesia adalah sebuah kewajiban. Bukan cuma bahasa asing dari budaya lain seperti Inggris, Mandarin, atau Perancis, namun juga bahasa-bahasa daerah seperti Jawa, Padang, atau Sunda. Saya pun selalu kagum dengan poliglot yang mampu menguasai 2-3 bahasa selain bahasa Indonesia, apalagi bila pengucapannya lancar dan pelafalannya jernih seperti penutur aslinya.
Istimewanya lagi, anak-anak generasi Z (post millenial) yang usianya sekitar 7-8 tahunan sudah jauh lebih pandai berbahasa asing (Inggris) ketimbang rekan-rekan saya atau guru bahasa Inggris saya ketika di sekolah. Bahkan, tingkat keminggris bocah-bocah ini bukan lagi di level kata-kata basically, which is, atau literally yang kerap diucapkan di pergaulan, namun sudah mencapai level ekspresi sehari-hari yang sering diucapkan oleh masyarakat Inggris di sana.
Kondisi ini saya sering temukan di daerah Jakarta-bagian-tengah-agak-ke-selatan-sedikit-tapi-engga-terlalu-ke-selatan yang notabene tingkat pergaulan internasionalnya di atas rata-rata. Bukan tidak mungkin kota-kota lain di Indonesia juga memiliki region serupa yang tingkat pergaulan internasionalnya di atas rata-rata.
“Mommy mommy, look! How wonderful that flower is! Can I take this, pleaseee?” ucap si bocah dengan aksen Inggris Asia-Amerika yang didapatkan entah dari asupan Disney Channel setiap pagi atau memang kewajibannya menggunakan bahasa Inggris di sekolah.
Si ibu yang kepayahan mengikuti kurikulum belajar anaknya hanya bisa menjawab sekenanya. Tentunya juga dalam bahasa Inggris meski tidak selancar dan se-totok anaknya. Akan tetapi saya tetap mengapresiasi peran si Ibu ini yang tidak kenal lelah dalam beradaptasi mengikuti perkembangan buah hatinya.
Pada kasus lain, saya juga pernah menemukan seorang bocah sepantaran 5 tahun yang mampu menyanyikan lagu pembuka SpongeBob Squarepants secara jelas dan repet. Bukan hanya pada bagian “Are you ready kids?”-nya saja, tapi sampai bagian si perompak menyanyikan rentetan lirik secara cepat.
Are you ready kids?! Aye aye captain
I can’t hear you?! AYE AYE CAPTAIN!
OOOOOOOOOOOOOO
BREBERETBERETBERET (pas bagian ini si anak fasih melantunkannya, terkejut saya)
SPONGEBOB SQUAREPANTS
BREBERETBERETBERETTTTT (apalagi pas bagian ini, makin terkejut saya)
SPONGEBOB SQUAREPANTS!
dan seterusnya. Sialan, jago juga ni bocah, umpat saya dalam hati.
***
Nah, agar tidak kalah bersaing dengan bocah-bocah lucu ini dan didorong adanya kebutuhan menguasai bahasa asing, saya mengikuti sebuah kursus bahasa Inggris di salah satu perguruan tinggi negeri di selatan Jakarta. Pembagian tema lesnya didasarkan pada bagian-bagian dari tes The International English Language Testing System yakni Reading (membaca), Writing (menulis), Listening (mendengar), dan Speaking (bercakap). Saya tidak mau lebih jauh membahas apa yang dibahas di dalam kursus saya, namun saya ingin menceritakan tentang pengalaman saya di satu sesi kemarin.
Tidak seperti biasanya, tutor kami (saya dan ke-12 siswa lainnya) tidak masuk kelas. Tutor ini adalah tutor spesialisasi percakapan sehingga beliau hanya mengajar di kelas Listening dan Speaking. Untuk sesi hari itu, tutor yang menggantikan adalah seorang ibu-ibu berusia sekitar 50 tahunan dengan gaya yang cukup trendi; rambut dicat kecoklatan, kacamata bingkai unik, dan pakaian yang tidak formal namun masih cukup pas untuk dipakai mengajar. Otak saya langsung bereaksi menerka-nerka si tutor ini.
Morning class! I’m going to be your substitute teacher for today’s class!” ucapnya dalam bahasa Inggris yang lugas dan jelas. Oiya, demi kemaslahatan saya dan panjenengan, percakapan berikutnya akan ditranslasikan ke dalam bahasa Indonesia saja.
Kami langsung membuka buku sembari menunggu ibu tutor membuka slide presentasi.
“OKE! Hari ini kita masuk ke topik 3 ya! Tentang tindak kriminal berdasarkan buku ini. Coba kalian sebutkan satu per satu apa saja tindak kriminal yang ada di dunia!”
Kami menyebutkan satu per satu. Hingga muncul dua kata yang memiliki makna serupa Burglary dan Robbery. Saya pun bingung membedakannya, karena bagi saya sama saja. Ternyata saya pun tidak sendiri, teman saya juga merasa kebingungan. Namun dia lebih cepat untuk bertanya ke beliau.
“Mam, ini bedanya apa ya?”
Merasa ditanya seperti itu, si Ibu tersenyum. Seakan si anak masuk ke strategi metode pembelajarannya. Masuk juga lu ke jebakan gua.
Si ibu kemudian langsung memberikan contoh singkat, namun tidak langsung menjawab pertanyaan yang ditanyakan teman saya. Loh ditanya A, jawabnya B? Beliau justru mengungkapkan “pandangan” beliau dalam mempelajari Bahasa Inggris. Semua yang beliau tuturkan juga berdasarkan pengalaman beliau sebagai akademisi dan seorang karyawan di perusahaan internasional.

***
Singkatnya seperti ini
Si ibu memulai dengan perumpamaan bahwa belajar bahasa asing sebenarnya sama dasarnya dengan mengendarai sepeda atau menyetir mobil. Penutur tidak perlu berpikir lebih jauh soal struktur bahasanya, namun dilatih agar dapat terbiasa. Ketika seseorang berbicara bahasa ibu, si penutur tidak akan berpikir panjang mengenai struktur yang dikatakan, karena semuanya sudah terpatri secara matang di luar kepala karena sering didengar dan diucapkan.
Si ibu lalu melanjutkan, beliau merasa ada salah kaprah dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Beliau menganggap bahwa pembelajaran di Indonesia lebih menekankan pada pemahaman teori berupa struktur kalimat dan tenses ketimbang hal-hal yang sifatnya praktikal. Baginya, belajar bahasa Inggris merupakan “learning”, bukan “studying”, kecuali kalau kamu memang mengambil gelar Sarjana di Program Studi Bahasa Inggris.
Menurutnya, untuk mencapai kondisi ideal bertutur bahasa asing, kamu juga harus familiar dengan sistem dan lingkungannya. Kalau kamu ingin dapat memahami berbahasa Inggris, bergabunglah dengan orang-orang penutur Inggris. Apabila ingin tinggal di suatu negara dengan aksen tertentu yang sulit dipahami, maka usahakan familiar dengan kondisi tersebut. Lagipula, sudah banyak sumber-sumber berita atau artikel di internet dengan aksen tertentu.
Jadi, pada dasarnya, belajar bahasa adalah kegiatan pembelajaran kognitif, yang artinya ilmu didapatkan melalui kemampuan penyelesaian masalah. Oleh karena itu, berlatih langsung adalah metode paling sesuai dan paling tepat. Ilmu yang didapatkan pun juga harus dipraktikkan, jangan hanya dipendam saja di dalam pikiran.
Belajar bahasa harus mengalami jatuh dan bangun. Kesalahan yang didapat lalu diperbaiki adalah kunci. Hingga pada akhirnya, kata-kata yang terucap dari lidah berasal dari hati (perasaan atau feeling) bukan lagi harus melalui pusang-pusing grammar, verba, vocab, dan lain-lain. Sama halnya seperti ketika berbicara bahasa ibu.
Setelah melakukan “kuliah dadakan” selama 45 menit, si Ibu menutup topik dengan berkata “Ok let’s get started with our business”. Ya memang pada akhirnya beliau menjawab pertanyaan teman saya dengan mengajak teman saya membayangkan perbedaan antara Perampok dan Pejambret. Mengerti? Yaaa little little lah~
***
Saya mendengarkan dengan serius materi “ekstra” yang disampaikan secara apik oleh ibu ini. Di usianya yang menginjak kepala 5 (begitu ucapnya), beliau memilih untuk meninggalkan posisinya di perusahaan asing untuk beralih menjadi akademisi. Semesta mendukung, beliau akhirnya dapat memberikan pencerahan kepada bocah-bocah di kelas saya yang mencari wadah untuk berlatih bahasa Inggris. Secara kebetulan, beliau pun juga mengubah paradigma rekan-rekan saya yang tadinya kebanyakan berpikir soal “Ini bener ga ya kalo gua ngomong begini?” atau “Eh biji kolak! Ini past tense bukan present perfect tense!” menjadi bahasa Inggris yang praktikal.
Jadi ya sekian, memang pada akhirnya saya masih belum mampu menyanyikan Theme Song SpongeBob Squarepants secara fasih. Namun setidaknya skill saya bisa diadu  dengan bocil-bocil di Jakarta-bagian-tengah-agak-ke-selatan-sedikit-tapi-engga-terlalu-ke-selatan itu.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments