Jalan-Jalan Men 2018: Transformasi Yang Pas?

By Padu Padan Kata - 8:55 PM

Bagi kalian-kalian, penikmat artikel remeh, nyeleneh, dan receh namun cukup berbobot dan mendidik (tergantung perspektif masing-masing), kalian pasti tidak asing dengan situs MalesBanget.com atau disingkat MBDC. Saya sendiri mengenal MBDC ini sejak sekitar tahun 2011, ketika pada saat itu saya masih SMA dan Kaskus menjadi jawara dalam menghadirkan media forum lintas topik. Dibandingkan Kaskus, tidak terlalu banyak teman saya yang membicarakan MBDC, hanya ada segelintir pihak yang membicarakannya.
Saya mengakui bahwa artikel-artikel pada tahun-tahun itu relatif nyeleneh dan kurang universal untuk dikonsumsi publik. Kalau dibandingkan dengan artikel MBDC masa kini, artikel MBDC masa kini cenderung lebih “normal” dan lebih “aman”. Saya menduga-duga apa mungkin gara-gara dampak dari peraturan terkait teknologi informasi yang beberapa saat terakhir ini menjadi lebih “kuat? Kendati begitu, artikel-artikel nyeleneh MBDC jaman dulu justru terkadang memberikan ide baru bagi saya untuk menulis. There is always a good side in every bad side, isn’t it?
Senjata utama dari MBDC adalah konten. Oleh karena itu, MBDC rajin menciptakan beragam inovasi untuk menyajikan konten-konten yang kreatif dan menarik. Tidak melulu menelurkan artikel, MBDC juga menelurkan beberapa mini seri yang dipublikasikan di website melalui perantara YouTube. Salah satu yang menurut saya paling pecah dan paling tidak tergantikan adalah Jalan-Jalan Men (JJM).
Teaser JJM tahun 2012
Ringkasnya seperti ini; Jalan-Jalan Men merupakan serial video bertemakan jalan-jalan yang dikemas dengan cara berbeda dibandingkan serial bertemakan jalan-jalan lainnya. JJM ini berfokus pada kisah Jebraw, si traveler super sejati abis, didampingi kompatriot sejatinya yang dulu kata orang-orang manisnya ngalahin kecap Bango, Naya, dengan tujuan menjelajahi tempat-tempat epic di Indonesia. Yogyakarta, Bali, Derawan, hingga Manado tercatat sudah disambangi duet maut ini. Selama 5-6 tahun terakhir, JJM sudah merilis  4 seri dengan 1-3 episode di tiap lokasi.
Yang menjadi keunikan di serial ini tidak hanya terletak pada teknik pengambilan gambar kualitas wahid maupun time lapse dengan efek-efek yang menawan, akan tetapi juga polah kedua pemeran utama JJM yang justru menjadi daya tarik tersendiri di JJM. Dengan kepribadian yang berbeda antar satu sama lain, penyimak dihibur dengan tingkah Jebraw yang slengekan, super slebor, dan lucu (funny) berdampingan dengan Naya yang cerdas, anggun, dan lucu (cute). Halah njijiki~
Duo Host Jalan-Jalan Men (kiri: Jebraw, kanan: Naya)
Di episode JJM tahun ini, serial JJM kembali mengudara setelah sebelumnya sempat vakum selama 3 tahun. Euforia bertebaran di lini masa, menyambut kembalinya Jebraw dan Naya. Kendati begitu, ada beberapa hal yang menjadi catatan ketika saya menyaksikan episode awal JJM 2018 ini. Sebelumnya, ini merupakan opini pribadi saya dan saya tidak berafiliasi dengan media manapun ataupun MBDC. Saya juga tidak memiliki kapabilitas dalam menilai baik buruknya sebuah tayangan, jadi apabila ada ketidaktepatan, mohon dimaklumi.
Jebraw yang Kurang “Jebraw”
Tidak dapat dipungkiri, Jebraw adalah ruh dari JJM. Saya rasa ini pun bukan ungkapan yang berlebihan. Namun nyatanya JJM tidak akan menjadi JJM tanpa kehadiran Jebraw. Boleh dibilang Jebraw ini serupa dengan Lionel Messi di Argentina Barcelona. Oleh karena itu, sebagai pemeran kunci di JJM bersama Naya, sukses tidaknya JJM sangat berpengaruh dari Jebraw. Hanya saja...
Saya mengamati ada perubahan signifikan dari Jebraw di episode awal JJM 2018 ini (di samping posturnya yang memang lebih gemuk dan suaranya yang tidak secempreng dulu). Tidak terlalu kentara memang apabila menonton tayangan JJM secara runut, namun apabila dibandingkan secara ekstrem antara seri awal JJM di Yogyakarta (tahun 2012) dengan episode awal JJM 2018 ini, saya merasa beberapa perubahan dilakukan justru yang menjadikan JJM menjadi kurang greng.
Pada edisi awal JJM Yogyakarta di tahun 2012 saya menangkap bahwa Jebraw ini adalah “maha guru” bagi segala macam jenis persleboran di dunia. Mulai dari tingkahnya yang serba absurd (entah memang secara natural atau diatur oleh sutradara), pola pikirnya yang nyeleneh, hingga kata-kata atau frasa yang menjadi trademark JJM seperti “Petjuaah” dan “super duper awesome abis”. Atas dasar itulah, JJM mulai dikenal khalayak ramai selain memang karena konsep yang dibawa JJM berbeda dari seri jalan-jalan pada umumnya.
Namun di JJM 2018 ini, saya menemukan gairah Jebraw dalam berslebor menjadi kurang greget. Guyonan-guyonannya terasa kurang bertenaga, cenderung “ter-filter”, dan sudah diatur sedemikian rupa. Di beberapa adegan juga, guyonan terasa agak sedikit dipaksakan. Padahal kesleboran Jebraw yang nampak natural adalah kunci di JJM seri-seri sebelumnya. Publik yang menonton JJM di seri sebelumnya selalu menanti-nanti, kira-kira apalagi guyonan-guyonan slengekan yang dilontarkan Jebraw.
Di sini saya berhiptotesis bahwa ada dua faktor yang menjadikan Jebraw bertransformasi. Pertama, saya beranggapan bahwa MBDC mulai menargetkan tayangan JJM ini agar dapat ditonton oleh seluruh khalayak. Alhasil guyonan yang ditampilkan pun juga harusnya cenderung lebih terkontrol dan lebih universal ketimbang JJM di era awal dulu. Di satu sisi, ini hal yang baik karena dengan berkurangnya inappropriate jokes, berarti JJM mencari jalan tengah dengan menghadirkan jokes yang masih mengocok perut namun tidak vulgar ataupun menyinggung satu elemen sehingga JJM dapat dinikmati oleh berbagai lapisan. Namun di satu sisi, kualitas jokes yang dibawakan menjadi banyak dikorbankan dibanding seri awal. Apalagi bagi penikmat serial JJM yang mengikuti seri ini sejak pertama kali diluncurkan, termasuk saya, yang terlanjur :nyetel” sama
Yang kedua, saya beranggapan bahwa yang berubah bukan pada konsep JJM-nya, namun pada Jebraw-nya. Di seri JJM 2018 ini, saya merasa bahwa Jebraw sudah menjadi lebih dewasa (secara kepribadian, bukan usia) sehingga mungkin dia mengurangi guyonan-guyonan aneh dan ngelantur. Perubahan pada diri Jebraw ini mengingatkan saya bahwa semakin berkembangnya manusia, manusia akan mencari jati diri di sanubarinya sehingga lebih tenang dalam menjalani hidup.
Ah sial, saya jadi berkontemplasi.
Product Placement yang Makin Tertera Jelas
Catatan kedua adalah pemajangan iklan produk yang semakin kentara. Saya tidak memungkiri bahwa iklan memegang peranan penting di media era kekinian. Ini hal yang normal, sebab media mulai bertransformasi. Tidak hanya sebagai sarana pemberi informasi namun juga wadah bisnis. Toh setiap media juga perlu membuat asap di dapurnya tetap mengepul, kan? Asalkan tetap memberikan informasi yang akurat dan faktual, menurut saya tidak masalah.
Hal yang sama juga terjadi di JJM. Di seri-seri sebelumnya, beberapa produk baik secara eksplisit maupun implisit dipasarkan pada masing-masing episode JJM. Kategori produknya pun juga beragam seperti produk telekomunikasi, mi instan, hingga maskapai penerbangan. Hal ini lantas membuktikan bahwa media dan iklan dapat berjalan linier serta saling mendukung. Di JJM 2018 ini, produk yang menjadi pendukung JJM adalah salah satu pendatang baru di online commerce Indonesia yang menempatkan sosok Joy, sebagai representasi dari e-commerce tersebut.
Product Placement di JJM 2013 seri Malang. Meskipun nampaknya disengaja, namun peletakkannya “rapi” dan tidak mengganggu cerita
Yang saya perhatikan, product placement di JJM semakin eksplisit di tiap-tiap edisi. Lagi-lagi membandingkan dengan di seri Yogyakarta dan Bandung (dua seri awal JJM), produk sponsor hanya muncul sekelabat sebagai latar atau berupa cut scene menuju scene baru. Penonton tidak terdistraksi akan hal ini karena durasi iklan hanya beberapa detik. Namun di beberapa seri JJM terakhir, sebagai contoh di seri JJM 2015, promosi produk diberikan scene khusus dimana pemeran utama diberikan adegan khusus untuk menggunakan dan mempromosikan produk sponsor. Bahkan di seri JJM 2018, Joy pun hadir sebagai pemeran ketiga di samping Jebraw dan Naya, ditambah slogan-slogan produk sponsor yang sangat sering saya temui dalam tayangan JJM 2018.
Product Placement di JJM 2015 seri Lombok
Product Placement di JJM 2018
Saya tidak mempermasalahkan promosi dalam media, namun karena poin utama dari JJM ini adalah kisah perjalanan Jebraw dan Naya, maka saya merasa sedikit terdistraksi dengan adanya iklan numpang lewat di tengah-tengah episode. Meskipun saya pun juga tidak menampik bahwa dalam setiap iklan produk dalam sebuah tayangan pasti melalui proses pengarahan agar sesuai dengan jalan cerita. Akan tetapi, keberadaan iklan yang numpang pada JJM 2018 ini membuat jalan cerita menjadi terasa kurang natural. Yang saya khawatirkan, JJM 2018 justru akan dikendalikan oleh produk sponsor sehingga mengabaikan konsep utama JJM yakni kisah Jebraw dan Naya menjelajahi Indonesia.
Ruh Baru JJM atau Ruh Lama JJM?
JJM 2018 kembali dengan format sama dengan tetap menekankan pakem yang sama dari tiga edisi sebelumnya; membuktikan kesungguhan Jebraw terhadap Naya. Memang terdapat modifikasi pada tiap-tiap edisi dengan menambahkan beberapa ide cerita tambahan, namun ide tambahan yang diberikan tidak jauh dari pakem yang dipegang hingga edisi keempat ini.
Nobar Premier JJM 2018 di CGV Grand Indonesia 10 Juli 2018 lalu
Dengan pakem sama yang tetap dipegang, perubahan justru terjadi di konten utama JJM yakni pada pemeran utama dan product placement yang semakin tertera jelas. Saya memang baru menikmati satu episode di edisi JJM 2018 ini, karena memang baru satu episode yang dirilis. Namun saya juga mendapati di kolom komentar bahwa banyak yang menganggap episode pertama di JJM 2018 ini tidak sesuai ekspektasi. Pemeran dan konsepnya memang sama, namun ditampilkan dengan ruh yang baru. Entah apakah ruh ini dianggap sebagai pendekatan baru di seri-seri JJM 2018 selanjutnya, saya pun juga kurang tahu. Meskipun begitu, tidak sedikit juga penonton yang menganggap JJM 2018 masih sama bagusnya dengan seri sebelumnya.
Dengan berubahnya karakter seorang Jebraw dan product placement yang makin tertera jelas, akankah JJM 2018 mendulang kesuksesan seperti seri-seri sebelumnya? Saya tidak dapat menjawab hal ini. Namun dengan basis massa JJM yang terlanjur besar, saya masih optimis bahwa JJM masih akan mendulang kesuksesan di seri 2018 ini. Selain itu dengan karakteristiknya yang berbeda dengan serial perjalanan lainnya, perubahan yang ada juga tidak akan mengganggu popularitas JJM. Meskipun memang, masih besar harapan saya untuk menikmati seri baru JJM ini sama seperti saya pertama kali menikmati JJM episode Yogyakarta pada tahun 2012 yang menjadi salah satu motivasi saya untuk berkuliah di Yogyakarta.
Jadi pilih ruh baru atau ruh lama? Ga penting, yang penting…
JALAN-JALAN MEN!

  • Share:

You Might Also Like

0 comments