The Es Teh Index

By Padu Padan Kata - 2:04 PM

Disclaimer: Tulisan ini hanya tulisan berdasarkan penalaran saya semata. Kalau kira-kira ada yang salah pemahaman, kurang pas, atau logical fallacy, mohon dibantu saya-nya hehe.
Setelah menulis tulisan tentang Polemik Es Teh kemarin, saya mencoba mencari sebab musabab harga Es Teh di Jakarta relatif lebih mahal daripada di Yogyakarta. Meskipun tidak memiliki latar belakang di bidang ekonomi, tapi saya coba untuk mengaitkannya dengan hal-hal yang berbau ekonomi, ketimbang politik atau sejenisnya.
Pernahkah teman-teman mendengar The Big Mac Index? Kalau sudah syukurlah, kalau belum silakan duduk manis biar saya jelaskan sedikit berdasarkan materi yang sudah saya telaah dari situs yang dibenci jagat per-dosenan sedunia, Wikipedia.
Singkatnya seperti ini, The Big Mac Index (BMI) merupakan teori “informal” yang dirilis oleh sebuah jurnal ekonomi kawakan di Inggris sana, The Economist. Uniknya, si The Economist ini menggunakan burger Big Mac bikinan McDonald sebagai sampel untuk mengukur Purchasing Power Parity (PPP) antara dua mata uang. PPP ini sendiri merupakan teori ekonomi yang menyatakan bahwa nilai tukar suatu mata uang setara dengan kemampuan sebuah mata uang dalam membeli suatu komoditas. 

PPP ini singkatnya kayak; dengan duit segini elu bisa beli apa di negara A dan negara B.
Contohnya seperti ini; harga Big Mac di Indonesia adalah Rp 40.000, sedangkan di Amerika sana seharga US$ 3.57. Dengan melakukan sedikit perbandingan matematis, maka dijabarkan (asek!) seperti ini:
1.  Big Mac @Amerika Serikat US$3,57 dan Big Mac @Indonesia : Rp 40.000 (atau Rp40 untuk mempermudah)
2.   PPP antara Big Mac @Amerika : @Indonesia berarti menjadi 3.57/40 atau US$1 = Rp 11.20
3.    Perbandingan kurs antara nilai tukar US$1 dengan Rupiah adalah US$ 1 = Rp 13.87
4.  Sampai di sini bisa kita lihat bahwa terdapat perbedaan perbandingan antara kurs nilai tukar rupiah dengan harga Big Mac. Yang satu 13.87 dan yang satu 11.2
5.   Oleh karena itu kita buat perbandingan (13.87-11.2)/11.2=0.52 atau 23%
6. Dari sini dapat disimpulkan bahwa terjadi over value nilai Dollar Amerika terhadap Rupiah sebesar 23%.
Bingung? Sama. Saya pas bikin tulisan ini juga bingung. Coba dibaca-baca lagi aja sampai mengerti. Kalo masih bingung, yaaacoba buka wikipedia.
Nah dengan teori BMI itu, saya mencoba menggunakan teori serupa untuk kasus es teh ini. Sebagai informasi ulang, harga rata-rata Es Teh di Jakarta adalah Rp 5.000 sedangkan harga rata-rata Es Teh di DIY adalah Rp 2.000. Nah, kalau BMI menggunakan nilai tukar mata uang, saya akan coba menggunakan Upah Minimum Regional (UMR) sebagai variabel pembanding. Oleh karena itu kalkulasi ini tidak akan memperhitungkan Purchasing Power Parity, tetapi rasio antara UMR dengan rasio antara harga es teh.
Saya tahu bahwa ini teori asal-asalan. Penentuan harga nominal pada suatu barang tidak hanya dipengaruhi oleh rasio-nya terhadap UMR saja, tapi berjuta-juta faktor lainnya, baik yang terlibat secara langsung atau tidak langsung. Tetapi bukankah penentuan harga sepotong Big Mac juga dipengaruhi beragam faktor? Jadi saya anggap, teori ini masih "sedikit" masuk akal.
Nah, lanjut lagi. UMR DKI Jakarta pada tahun 2018 ditetapkan sebesar Rp 3.645.035 sedangkan UMR DIY sebesar Rp 1.454.154. Nampak lebih besar DKI Jakarta kan ketimbang DIY secara nominal?
Sekarang kita coba masuk ke pembahasan.
1.    Es Teh @DKI Jakarta Rp 5.000 dan Es Teh @Yogyakarta Rp 2.000
2.  Perbandingan antara Es Teh di DKI Jakarta dengan di Yogyakarta berarti menjadi 5000/2000 atau 2.5
3.  Perbandingan antara UMR DKI Jakarta dengan DIY adalah (3.645.035/1.454.154) adalah 2.508
4.    Oleh karena itu didapat perbandingan (2.5 - 2.508)/2/5 = -0.0032 atau -0.32%
5.  Weh, what a coincidence!
Meskipun pada hakikatnya terdapat undervalue 0.32% antara harga Es Teh di DKI Jakarta dengan Yogyakarta, namun kita abaikan hal ini karena perbandingannya yang sangat kecil. Jadi, secara mengejutkan, ternyata harga Es Teh di DKI Jakarta dan Yogyakarta memiliki perbandingan nilai yang relatif sama dengan UMR DKI Jakarta dibanding Yogyakarta. Oleh karena itu, sebuah kewajaran apabila harga Es Teh di DKI Jakarta dipatok dengan harga Rp 5.000. Apabila diletakkan di harga Rp 2.000, maka akan ada undervalue harga jual es teh dari nilai keekonomisan sebesar 50%.
Ilusi Brutal Money Illusion Terhadap Persepsi Masyarakat
Beberapa waktu yang lalu, seseorang di angkatan saya memamerkan skill tawar-menawarnya kepada saya. Jadi, dulu ketika angkatan kami melawat ke negeri tetangga, dia membeli kaos Glow In The Dark.
“EH MURAH KALI AKU BELI, E. AKU NAWAR DARI 20 DOLAR JADI CUMA 12 DOLAR LOH, BOD!” Padahal di lapak lain yang menjual dengan harga fixed price, saya mendapat kaos serupa dengan harga $12 tanpa susah-susah menawar wqwqwq.
Tapi tetap, setelah kembali ke Indonesia, saya dulu jadi merasa “Hanjir gua ngapa beli kaos 120 rebu yak?”
Patut saya akui, ketika dulu berkesempatan melawat ke negara tetangga, semua harga-harga terasa menjadi murah. Padahal, harga yang diberikan untuk satu barang sebenarnya sama saja atau justru lebih mahal apabila dikonversi ke Rupiah. Tanpa disadari, pola pengeluaran saya pun juga berubah pada saat itu. Misalnya ketika itu, saya tidak sungkan untuk membeli air minum botolan seharga 90 sen yang apabila dikonversi ke Rupiah maka saya baru saja membeli air putih 600 ml seharga Rp 9.000. Wow mahal sekali bung!
Sepulang dari negara tetangga, saya segera berkonsultasi dengan kakak saya. Kakak saya yang tidak berlatar belakang seorang ekonomi langsung mendiagnosis saya; saya terkena Money Illusion.
Jadi, Money Illusion adalah kondisi dimana kecenderungan seseorang mengukur sebuah mata uang berdasarkan nominal, bukan nilai aslinya. Ilusi ini mengakibatkan nominal mata uang tidak sesuai dengan purchasing power pada kondisi idle si pemilik uang. Konsekuensinya yaaa persepsi si orang terhadap harga-harga menjadi lebih murah di negara lain kendati sebenarnya sama saja atau justru lebih mahal daripada ketika dibelanjakan di negara asal. Sebuah air minum botolan seharga 1 Dolar mungkin kita rasa akan kemahalan apabila dikonversi ke Rupiah, namun akan "terasa" lebih murah ketika kita melihatnya di negara lain.
Dalam kasus es teh ini, saya merasa bahwasanya saya pun (lagi-lagi) terkena efek Money Illusion terhadap harga es teh. Saya terbiasa dengan harga Es Teh di Yogyakarta yang hanya Rp 2.000 dan merasa bahwa harga es teh di Jakarta yang Rp 5.000 lebih mahal daripada di Yogyakarta secara nominal. Padahal nilainya akan sama apabila saya menggunakan dasar bahwa UMR Jakarta yang 2.5 kali lebih tinggi daripada UMR Yogyakarta.
Money Illusion ini, menurut saya, juga menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan banyaknya pendatang ke Jakarta dengan alasan UMR yang lebih tinggi, termasuk teman-teman saya. Padahal sebenarnya kalau dihitung secara nilai, besar nominal gaji dan besar nominal pengeluaran akan sama saja dengan yang didapat di Yogyakarta karena perhitungan UMR pun menggunakan studi Kebutuhan Hidup Minimum, Indeks Harga Konsumen, dan lain-lain yang mungkin saja memang secara kebetulan nilai ini kalau dikualitatifkan akan lebih tinggi 2.5 kali. Namun saya tidak ingin membahas lebih jauh soal ini.
Okelah katakan pendapatan per bulan semisal pas lebih tinggi 2-2.5 kali lebih tinggi daripada UMR asal, namun harus diperhitungkan juga bahwa biaya pengeluaran juga 2-2.5 kali lipat lebih tinggi daripada daerah asal. Misalnya makan siang di Yogyakarta cukup Rp 8.000, di Jakarta bisa Rp 15.000 dengan porsi dan lauk yang sama. Oleh karena itu, Money Illusion ini bisa berakibat fatal karena tanpa perencanaan keuangan yang mantap, bukan tidak mungkin gaji yang didapat hanya keluar-masuk rekening untuk mencukupi pengeluaran.
***
Sebagai kesimpulan, saya tidak memungkiri bahwa ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi nilai suatu barang, entah inflasi, entah nilai tukar mata uang, atau memang harganya mahal dari sana. Saya pun juga tidak memungkiri apabila ada kesalahan penafsiran oleh saya dalam kasus ini. 
Tapi yang paling penting dalam kasus es teh ini, saya menegaskan bahwasanya lebih baik kalian-kalian ini minum air putih sehabis makan dan mengurangi minum es teh karena lebih menyehatkan dan menjauhkan kalian dari penyakit gula~

  • Share:

You Might Also Like

0 comments