/pa·mit/

By Padu Padan Kata - 10:56 PM


Beberapa waktu yang lalu, saya berkunjung ke kediaman teman baru saya. Dia sebenarnya bukan orang yang baru saya kenal, tapi baru beberapa hari terakhir ini saya mengenalnya lebih dekat dan dapat berinteraksi secara intens. Dulu saya hanya sesekali berbicara dengannya, ya hanya basa-basi semata. Alasannya, saat ini saya dan dia berada di level pendidikan yang sama dan dia mengajak saya menjadi teman satu bangku dengannya karena merasa ada kecocokan antara dia dan saya.
Baru kenal sebentar, tapi sudah merasa cocok? Aneh sekali memang.
Teman saya yang satu ini memang agak aneh, bahasa sopannya seperti itu. Kalau boleh berkata kasar, saya akan bilang si teman baru saya itu aneh sekali. Sangat aneh sekali. Malah apabila saya bandingkan dengan teman-teman saya di tingkat pendidikan sebelumnya, si teman baru saya ini kalah segala-galanya. Kalah modis, kalah gengsi, dan kalah pamor. Mungkin rasanya sangat bersalah apabila membandingkan keduanya karena bagai membandingkan si angsa dan si itik buruk rupa.
Namun dengan alasan, menghormati keluarganya, saya tetap berbaik hati kepadanya meskipun dalam hati masih terasa sungkan ketika bertemu dengannya.
Nah kembali lagi ke cerita.
Pada hari itu saya bertemu dengan bapak dan ibu teman baru saya itu –tidak lupa teman baru saya. Kami duduk di sebuah ruang untuk tamu yang berbentuk segitiga dengan kolam ikan kecil di belakang Si Bapak. Di tengah ruangan terdapat meja bundar kecil dengan hiasan meja di tengahnya.
Dari percakapan saya kemarin, Saya mengenal ketiganya sebagai pribadi yang berbeda satu sama lain. Si bapak yang akademis dan kritis; obrolannya setiap saat selalu menyindir tentang pemerintah, pemerintah, dan pemerintah. Namun, beliau selalu menambahkan argumentasi berdasarkan penafsiran nalar akademisnya. Pantas saja di belakang ruang tamu saya melihat susunan buku-buku tebal yang terpampang rapi di lemari kaca.
Beda halnya dengan si Bapak, si Ibu memiliki ciri khasnya yang tak kalah unik. Setiap saya menjawab pertanyaannya, beliau selalu mencocokkan jawaban saya dengan beragam resep masakan yang sudah ia kuasai turun temurun dan disampaikan dalam guyonan renyah. Jadi, berdasarkan penglihatannya, saya diibaratkan sebagai sebuah Lumpia namun masih berupa kulit Lumpia. Belum diisi dan masih mentah.
Saya jadi bingung. Dari bapak yang serba akademis dan ibu yang serba guyon, kenapa si teman baru saya ini bisa jadi sosok yang pendiam, misterius, dan dingin ini. Saya berandai-andai, si teman baru saya ini seharusnya bisa menjadi pribadi yang kocak, gembira, dan enerjik, mewarisi karakteristik bapak dan ibunya.
Sepanjang saya bertamu, saya sesekali melirik si teman baru saya. Gestur tubuhnya menandakan ketertarikan terhadap pembicaraan amburadul antara saya dan si Bapak dan si Ibu. Sesekali dia memasang mimik serius dan turut memberikan pendapat, apabila saya dan si Bapak beradu pendapat dan opini. Namun sesekali dia juga tertawa kecil ketika saya kepedasan sehabis melahap Onigiri Ayam Krispi yang sudah dibumbui banyak cabai oleh Si Ibu.
“Gak papah, biar kamu kuat nanti begadang,” tukas si Ibu santai. Saya langsung menyambar susu coklat dengan es batu yang terhidang di depan saya. Wah ini pedasnya luar biasa sih bu.
Tapi saya melihat dia tetap merupakan pribadi yang tidak berbeda dengan impresi pertama saya. Masih dingin dengan saya.
Setelah cukup lama mengobrol dengan si Bapak dan si Ibu dengan banyak topik dan tema, saya memperhatikan si teman baru saya ini mulai berubah di mata saya. Pribadi yang pendiam, misterius, dan dingin ini mulai berubah secara perlahan. Memang tidak menjadi pribadi yang mewarisi karakteristik bapak atau ibunya, tapi saya merasa ada yang unik dari teman baru saya ini. Semuanya terasa tidak berlebihan, pas malah. Menghadirkan atmosfer baru di dalam percakapan saya dengan si Bapak dan si Ibu.
Karena merasa tidak menyangka dengan apa yang saya lihat, saya mulai melempar pembicaraan kecil dengan teman baru saya ini sembari tetap fokus pada topik dari Si Bapak dan Si Ibu. Awalnya si teman baru saya ini tidak merespon percakapan saya dan malah melengos ketika saya bertanya kepada dia. Si Ibu hanya tertawa. “Maaf mas, anaknya pemalu.”
Karena merasa tidak diacuhkan, saya kembali mengobrol dengan si Ibu, sementara si Bapak sibuk menjawab Whatsapp dari rekan-rekan bisnis yang tertarik bekerja sama dengannya. Si Ibu bercerita bahwa saya akan sangat rugi apabila hanya mencoba beberapa resep masakannya. Saya hanya tertawa mendengarnya. Lalu beliau berkata, bahwa teman-teman lain si teman baru saya itu pada menyesal belum pernah mencoba resep masakannya. Saya pun bergidik.
Hampir tiga perempat waktu berkunjung, saya habiskan bercengkrama dengan si Bapak dan si Ibu. Saya kembali membuka percakapan dengan si teman baru saya itu. Pertanyaan ringan yang saya rasa akan sangat bodoh sekali untuk saya tanyakan. Namun entah mengapa, lidah saya sampai hati mengucapkannya.
“Kamu memang pemalu ya?” tanya saya singkat. Saya langsung merasa menjadi orang paling bodoh sedunia.
Dia menjawab. Pancaran aura barunya semakin menguat, mengandaskan saya dan beragam catatan percakapan yang sudah saya siapkan untuk mencairkan suasana. Ketika saya sudah gugup untuk mengajak bercakap-cakap, tidak disangka dia mengajak saya berbincang-bincang lebih jauh. Saya menjadi lebih kaget lagi. Tidak disangka saya merasa sangat nyaman berbincang dengannya. Bahkan saya merasa ada kecocokan antara saya dengannya. Nyaman rasanya.
Tanpa terasa waktu terus berjalan. Saya dan si teman baru saya terus berbincang asyik. Hingga telepon genggam saya berdering keras. Saya coba tidak acuhkan. Namun tidak berapa lama, dering telepon semakin sering berdering. Saya mengangkat telepon saya. Dari teman lama saya di tingkat pendidikan sebelumnya.
PULANG SEKARANG. SAYA BUTUH KAMU DAN KAMU BUTUH SAYA. SEKARANG.
KLIK...
Saya langsung merasa tidak enak meninggalkan si teman baru saya ini. Baru saja saya mendapatkan sosok baru yang sangat enak untuk diajak ngobrol, tiba-tiba sudah dipanggil pulang. Saya merasa serba salah. Ingin bertahan, tapi saya dibutuhkan segera oleh teman baru saya. Namun teman baru saya memaklumi.
“Pulanglah. Kamu nanti bisa bertemu aku lagi, kok.” ucap teman baru saya sambil tersenyum.
“Kapan?”
“Hingga semesta mempersatukan kita kembali.”
Setelah ucapannya itu, saya langsung merasa lega. Lega bahwa saya akan bertemu dia lagi dengan pribadi yang baru yang saya senangi. Setidaknya saya masih dapat menghubunginya lagi. Entah mungkin ketika saya tidak sibuk atau ketika dia tidak sibuk.
Saya merapikan barang-barang yang saya bawa ke rumah si teman baru saya. Ketiganya membantu saya merapikan barang-barang saya. Seusainya saya ucapkan terima kasih atas bantuan dan jamuannya.
Di penghujung pintu, sambil mengantar saya, teman saya berpesan.
“Datang lagi ya besok, banyak yang mau aku sampaikan.”
“Oke tentu saja,” balasku sambil melangkah ke pagar. Bersiap pulang menuju rumah teman saya yang lama, 50 menit perjalanan ke arah barat.


Pojok Kos E-18, 13 Januari 2018

  • Share:

You Might Also Like

0 comments