Angkot Jakarta 2.0

By Padu Padan Kata - 10:43 PM

Angkot akan berubah!


Belum lama ini, muncul usulan dari Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta untuk melakukan transformasi besar-besaran di salah satu lini angkutan darat paling besar di DKI Jakarta, angkutan kota alias angkot alias mikrolet. Tidak main-main, Organda berencana mengganti angkot di DKI Jakarta dengan menggunaan mobil Toyota Transmover (versi low budget Avanza) dan Wuling Convero (kalau ini kayaknya memang tidak akan berubah namanya).
Publik terkejut. Bumi gonjang ganjing. Langit kerlap kerlip.
Usulan ini tentu membuat gempar jagat per-otomotif-an tanah air, khususnya pemilik dan calon pemilik Toyota Avanza. Toyota Avanza yang saat ini sudah menjadi mobil sejuta umat di Indonesia ini tentu akan mengalami “penurunan kelas” di kasta mobil pribadi. Sudah dijadikan mobil taksi, dijadikan mobil favorit taksi online, sekarang malah dijadikan angkot. Sedih sekali rasanya. Untung saya masih setia dengan si Kerbau.
Usut punya usut, transformasi angkot ini didasari pada kesadaran Organda untuk memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM). Intinya agar angkot minimal diberikan AC dan kursi yang layak duduk supaya enak dan nyaman. Oleh karena itu Toyota Transmover muncul di daftar calon angkot “eksekutif” yang dikatakan oleh Organda DKI.
Tapi kalau boleh jujur, saya tidak terlalu setuju akan hal ini.
Bukan, saya bukan bermaksud menghalang-halangi usaha Organda dan Pemerintah untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Tapi penunjukkan seekor Transmover ataupun mobil-mobil yang tidak identik dengan angkot untuk menjadi sebuah angkot saya rasa bukanlah pilihan yang efektif dan efisien untuk saat ini. Betulkah begitu?
Sebelum masuk ke inti pembahasan, saya mengasumsikan bahwa sistem penarikan keuntungan yang ada masih berupa sistem setoran, bukan berupa sistem gaji seperti halnya Transjakarta. Selain itu, saya juga berasumsi bahwa kepemilikan kendaraan dimiliki oleh pribadi atau perseorangan atau koperasi namun dalam jumlah terbatas.
Nah setelah itu bisa dimulai pembahasannya.
Kapasitas
Yang pertama tentu yang patut disorot adalah segi kapasitas. Kapasitas angkut maksimum dari seekor seven seater Avanza adalah 7 orang penumpang ditambah 1 sopir. Itu pun dengan catatan penumpang yang berada di baris belakang harus siap empet-empetan karena jarak antar baris kursi yang sangat pendek. Apalagi untuk kaum gigantis seperti saya.
Perbandingan konfigurasi dan kapasitas antara angkot tipe Suzuki Carry eksisting dengan Toyota Transmover yang direncanakan
Coba bandingkan dengan kondisi angkot saat ini. Seekor Suzuki APV atau Daihatsu GranMax versi angkot dapat menampung hingga 14 penumpang ditambah 1 sopir. Konfigurasinya seperti ini; 11 penumpang duduk berhadapan, 1 penumpang di dingklik samping pintu, dan 2 penumpang duduk di kursi depan. Tentu dengan kapasitas yang lebih besar, seekor Suzuki APV dan Daihatsu GranMax dapat menampung dan mendapatkan penghasilan 40% lebih banyak dari seekor Avanza Transmover dalam sekali rit dengan keadaan penuh penumpang.
The more, the better.
Untuk mencapai perbandingan jumlah yang seimbang antara kapasitas angkot saat ini dengan kapasitaa angkot versi penambahan fasilitas dan lain-lain, saya justru merekomendasikan kendaraan dengan dimensi lebih besar. Tipe kendaraan yang saya kira lebih cocok adalah kendaraan jenis Isuzu Elf yang memang didesain untuk menampung hingga 15 penumpang ditambah satu sopir. Namun perlu dicatat juga, harga seekor Isuzu Elf (dengan AC) bukan 11-12 dengan seekor Transmover. Seekor Isuzu Elf baru dihargai 290 juta, sedangkan Transmover keluaran tahun 2018 seharga 143 jt OTR. Selisih harganya saja sudah seharga 1 Transmover~
Perbandingan konfigurasi dan kapasitas antara Toyota Transmover dan Isuzu Elf
Tarif
Andaikata Transmover jadi didapuk sebagai moda angkot utama, tarifnya tentu tidak akan sama seperti saat ini. Dengan pengurangan kapasitas, penambahan fasilitas, dan peningkatan kenyamanan, saya sangat sangsi sopir angkot masih mau menerima selembar dua ribu dan tiga koin 500-an untuk rute jarak dekat. Angka minimal pasti ada di kisaran 5 ribu Rupiah atau lebih. Kenaikan tarif ini mau tidak mau harus dikejar untuk mencapai Break Even Point dari meningkatnya biaya bahan bakar dan perawatan kendaraan yang bakal lebih banyak akibat penggunaan AC dan segala tetek bengek fasilitas yang dulu tidak ada namun sekarang diadakan. Tidak lupa juga cicilan kendaraan yang harus dipenuhi oleh si pemilik angkot.
Kenaikan tarif, meskipun dibarengi dengan peningkatan fasilitas, tentu akan memicu protes keras dari masyarakat. Saya ingat betul masa-masa dimana sopir angkot menolak selembar dua ribu untuk rute jarak dekat dan meminta tambahan Rp 1.000, banyak penumpang yang merasa keberatan. Bibir manyun selalu menghiasi wajah penumpang akibat kebijakan ini. Termasuk ibu saya yang sangat hati-hati soal pengeluaran, yang saya rasa juga pasti dirasakan oleh seluruh ibu-ibu di Indonesia.
Suatu senja pada masa pulang kantor di atas angkot merah menuju Kampung Rambutan
Di lain hal, keberadaan angkutan online yang sebenarnya masih relatif abu-abu menjanjikan tawaran yang lebih menarik ketimbang angkot. Sistem point to point, harga bersaing, hingga kesempatan mendapatkan jodoh dari bisnis angkutan online. Tak pelak, dengan kondisi saat ini keberadaan angkutan online menjadi ancaman serius sopir angkot. Buktinya? Coba simak obrolan saya dengan seorang sopir angkot dalam Setoran.
Biaya Peremajaan
Poin terakhir adalah biaya peremajaan. Seperti sudah disampaikan sebelumnya, rata-rata angkot di DKI Jakarta dimiliki secara perseorangan. Maka dari itu muncul istilah juragan angkot untuk menyebut seseorang yang memiliki banyak armada angkot. Untuk mengomparasikan peremajaan angkot ini, saya mengambil kasus peremajaan Bajaj Oren menjadi Bajaj BBG yang berlangsung sejak medio 2013 silam (sumber).
Pada 2013, lalu PemProv DKI Jakarta melakukan peremajaan besar-besaran terhadap 14.000 bajaj tua yang berwarna oranye ke bajaj BBG berwarna biru. Alasannya, karena banyak Bajaj Oren yang tidak laik jalan. Pada saat itu, pemerintah membeli Bajaj Oren dari pemilik bajaj seharga 20 juta, sedangkan harga Bajaj BBG 59 juta. Artinya, si pemilik Bajaj harus mencari dana 39 juta untuk melunasi satu Bajaj BBG. Untungnya, saat itu pihak penyedia Bajaj menyediakan kredit ringan bagi pemilik Bajaj Oren.
Meskipun pada akhirnya tidak semua pemilik Bajaj sanggup untuk menukar tambah Bajaj Oren dengan Bajaj BBG dan terpaksa merelakan bajaj-nya dijadikan rumpon teluk Jakarta tanpa mendapat ganti. Alasannya? Dana
Dengan berkaca dari kasus di atas, bukan tidak mungkin pemilik angkot akan dihadapkan dengan permasalahan yang sama dengan pemilik Bajaj Oren. Pendapatan yang seringkali mepet dengan target setoran dan persaingan keras dengan angkutan online, bukan tidak mungkin ke depannya pengusaha angkot memilih untuk “mundur dari medan pertempuran” ketimbang meremajakan angkot yang belum tentu akan untung.
Peremajaan Angkot, Tepatkah?
Dari beberapa poin di atas, saya cenderung merasa bahwa peremajaan angkot dengan menggantinya ke satu jenis kendaraan yang lebih modern bukanlah sebuah solusi mendasar atas permasalahan angkot saat ini. Meskipun masih dalam tahap penjajakan, saya merasa bahwa peremajaan angkot dengan mengganti kendaraan dan penambahan fasilitas tersier saya rasa hanya akan membebani pemilik angkot dan pengguna angkot.
Justru saya merasa bahwa ada hal-hal yang lebih penting seperti pengubahan manajemen angkot menjadi satu konsorsium besar serupa Transjakarta dan penghapusan sistem setoran. Untuk hal yang pertama, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah menyampaikan bahwa angkot di DKI Jakarta akan diajak bergabung dengan Transjakarta sama halnya dengan Kopaja dan Metro Mini.
Hal ini jelas menjadi titik cerah dunia per-angkot-an karena untuk pengaturan angkutan umum di level kota metropolitan seperti DKI Jakarta, perlu ada manajemen yang terpadu antar moda untuk mengejar kemudahan mobilitas tinggi warganya. Tentu DKI Jakarta tidak ingin di-cap hanya jual merk dagang Smart City kan kalau pengelolaan transportasi umumnya masih menggunakan sistem setoran yang sudah tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini.

Jadi Transmover atau tetap mempertahankan angkot saat ini?
Bebas, yang penting terjangkau dan sistemnya ga bikin bingung kayak Ok-Ok-an itu. Wqwq.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments