Jalan-Jalan Masjid #8 : Akhir dari Ujung

By Padu Padan Kata - 7:27 PM


Selasa, 8 Juli 2014 (Cirebon – habis)
Selepas Saya dan Deni menyimak “Tausyiah” pagi dari Pak Becak (simak ceritanya di sini), kami segera bergabung dengan jamaah lainnya untuk menunaikan shalat subuh berjamaah. Imam pun sudah mulai mengumandangkan takbiratul ikhram ketika kami baru bersiap mengambil air wudhu. Lepas itu, langsung kami segera mengambil posisi di barisan di saf paling belakang.
Seingat saya, selepas shalat subuh, takmir masjid mengadakan kajian yang dipimpin oleh seorang ustad. Selepas berzikir dan berdoa bersama, jamaah langsung mencari posisi paling pewe, tiang masjid. Tapi saya tidak ingat jelas apa yang dibawakan dari pak ustad. Mungkin juga karena ketika pak ustad sedang menyampaikan tausyiahnya, saya sedang tertidur pulas.
Suasana di dalam Masjid Agung Kasepuhan Cirebon
Oh iya, sedikit cerita, Masjid Agung Kasepuhan Cirebon atau Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini merupakan salah satu masjid tertua di Kota Cirebon. Letaknya masih satu komplek dengan alun-alun Kasepuhan dan Keraton Kasepuhan Cirebon. Konfigurasi semacam ini mengingatkan saya pada tipologi alun-alun di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Alun-alun - Keraton - Masjid dan tidak jauh dari sana pasti terdapat pasar atau pusat kegiatan ekonomi. Sangat unik, mengingat lokasi Cirebon ini yang berada di daerah Jawa Barat.
Namun usut punya usut, berdasarkan hasil jelajah di Wikipedia, Keraton Kasepuhan Cirebon ternyata lebih dulu ada ketimbang Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Selain itu,  dikutip dari sumber yang sama yang (semoga) valid, gaya arsitektur Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat terinspirasi oleh Keraton Kasepuhan Cirebon.
Pintu masuk masjid
Keunikan lainnya adalah bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakat di Cirebon. Bahasa yang digunakan, menurut pengakuan rekan-rekan Jalan-Jalan Masjid, masih berbunyi mirip dengan bahasa Jawa namun tidak semuanya dapat dimengerti. Mungkin hal ini dikarenakan lokasi Cirebon yang berada di perbatasan Jawa Barat - Jawa Tengah yang mana menciptakan akulturasi antara kebudayaan Sunda dan Jawa. Ini cuma teori sotoy saya, tapi kalau panjenengan sedoyo punya teori lain boleh dilampirkan loh.
***
Seketika matahari mulai menampakkan diri, saya bersiap untuk menjelajah kawasan sekitar MAK. Teman-teman lainnya sudah terlebih dahulu mengandaskan diri di selasar masjid. Saya pun juga merasakan kantuk yang luar biasa, namun tetap saya tahan karena tidak enak rasanya kalau jauh-jauh pergi hanya dihabiskan untuk leyeh-leyeh.
Dalam Jalan-Jalan Pagi ini, saya tidak terlalu banyak menemukan hal yang menarik. Suasana kota Cirebon ini persis sekali dengan Bekasi. Namun ada salah satu objek yang menarik. Ketika saya berjalan menyusuri salah satu ruas jalan, saya menemukan satu masjid yang katanya merupakan masjid tertua di Cirebon. Jauh lebih tua dibanding MAK. Masjid Pejlagrahan namanya.

Masjid Pejlagrahan yang usianya jauh lebih tua daripada Masjid Agung Kasepuhan Cirebon
Dibandingkan masjid-masjid tua yang saya sambangi sebelumnya yang berada di jalan besar, Masjid Pejlagrahan ini berada di satu gang sempit. Penanda berupa gapura terbuat dari besi di ujung gang merupakan satu-satunya penanda di Masjid Pejlagrahan ini. Awalnya saya mengira masjid ini adalah mushola karena ukurannya yang teramat mungil dibanding masjid-masjid pada umumnya. Namun setelah ditelusuri lebih lanjut, masjid ini rupanya sudah ada sebelum MAK dibangun.
Ekspedisi Kraton Kasepuhan Cirebon
Jam 8 tepat, saya dan teman-teman meninggalkan MAK. Bersiap menuju destinasi terakhir dalam Jalan-Jalan Masjid; Keraton Kasepuhan Cirebon. Kami berangkat pagi-pagi sekali karena Deni dan Alan pukul 10 akan kembali ke Semarang.
Sesampainya di sana, keraton rupanya baru saja buka. Kami membayar tiket masuk, kalau tidak salah 8 ribu Rupiah per orang. Lumayan harga standar untuk wisata kraton. Karena berlagak celingak-celinguk seperti mahasiswa baru ketika ospek, seorang penjaga keraton mendatangi kami.
“Mau lihat-lihat mas? Mari saya antarkan” seketika sang bapak menawarkan jasa pemandu wisata.
Karena sudah kadung ingin berhemat, jadinya kami tolak dengan hormat tawaran jasa sang bapak. Kami bukannya tidak menghargai tawaran sang bapak, tapi yaaa lebih hemat lebih baik bukan?
“Ga usah bayar mas, gratis,” tak disangka si bapak mengucapkan jurus sakti. CLING! Karena terpengaruh tawaran sang bapak, jadilah kami terima tawaran si bapak.
Satu petuah yang harus diingat baik-baik, jangan menolak rezeki.

Suasana di dalam Keraton Kasepuhan Cirebon
Si bapak pun mengantarkan kami menjelajah seluruh bagian keraton. Secara seksama beliau juga menjelaskan kepada kami sejarah bangunan dan benda secara umum hingga “cerita-cerita” yang ada. Kami hanya mangut-mangut tanda mendengarkan. Si bapak pun juga senang hati membuka jasa potret. “Mari mas saya fotokan!”
Ya
Banyak hal yang dapat dilihat di Keraton Kasepuhan Cirebon, tapi tidak semuanya saya ingat. Barang-barang peninggalan masa lampau, bangunan keraton, pertapaan Pangeran Cakrabuana, hingga legenda harimau putih pada masa itu masih dapat dilihat dengan kondisi yang baik. Jujur, saya berikan nilai 8 perawatan barang-barang antik yang dipajang di Keraton Kasepuhan ini.
Kereta Kencana Singa Barong bikinan cucu Sunan Gunung Jati medio abad ke-15
Di akhir perjalanan, layaknya tuan rumah yang menjamu tamu, si Bapak mengantarkan kami ke pintu keluar keraton. Atas dasar menghargai jasa si Bapak yang sudah susah-susah mengantarkan kami, kami berniat memberikan “uang jasa”. Alan pun menyelipkan selembar 20 ribu ketika bersalaman dengan si bapak. Awalnya si bapak menolak, namun akhirnya diterima juga setelah kami juga menolak menerimanya kembali. Jangan menolak rezeki.
Karena jadwal keberangkatan kereta sudah mepet, Alan dan Deni menggunakan jasa becak, bertolak kembali ke Cirebon Prujakan. Saya, Wawan, dan Ardi yang jadwal keretanya masih sekitar jam 3, memutuskan pergi mencari tempat-tempat wisata lainnya di Cirebon. Karena tidak punya referensi mau kemana, maka kami memutuskan untuk pergi mengikuti kaki kami melangkah.
Kota Tua Cirebon
Tidak banyak yang kami kunjungi, hanya Kawasan Kota Tua Cirebon dan Masjid Raya At Taqwa. Saya menduga masjid raya ini adalah masjid baru, namun ternyata masjid ini jauh lebih tua daripada bapak saya. Jadi ceritanya, masjid ini dibangun tahun

1918 lalu dibangun kembali tahun 1951 dan diresmikan tahun 1963. Di masjid yang gaya arsitekturnya terbilang baru ini, saya menyempatkan diri untuk mandi karena ternyata kamar mandinya banyak sekali, sedangkan Wawan dan Ardi memilih tidur-tiduran di lantai masjid yang ber-AC. Saya tidak tahu, mungkin mereka memilih untuk membalur tubuh dengan Axe Chocolate ketimbang repot-repot mandi.
Selepas zuhur, kami memutuskan untuk berjalan kaki dari Masjid Raya At Taqwa ke Stasiun Prujakan karena ingin jalan-jalan. Akhirnya setelah 1 jam berjalan, kami tiba di Stasiun Prujakan. Aksi nekat jalan-jalan siang bolong ini memakan satu korban, yakni Ardianto yang sudah kandas kehausan di tengah perjalanan.
Jalan-Jalan Masjid pun resmi diakhiri ketika Kereta Bogowonto membawa saya menuju ibukota dan Kereta Bengawan membawa Ardi dan Wawan kembali ke Yogyakarta. Sebuah pengalaman yang luar biasa selama 5 hari 4 malam menjelajahi masjid-masjid berukuran gigantis hingga masjid berukuran mini, bertemu beragam orang dan budaya, merasakan kerasnya Pantura, dan pengalaman lain yang tentunya lebih baik dirasakan langsung ketimbang diceritakan.
Akhir dari Ujung
Jalan-Jalan Masjid pun resmi diakhiri ketika Kereta Bogowonto membawa saya menuju ibukota dan Kereta Bengawan membawa Ardi dan Wawan kembali ke Yogyakarta, merapat di Stasiun Prujakan. Saya ke barat, mereka ke timur.
Akhir cerita, Jalan - Jalan Masjid memberikan sebuah pengalaman istimewa. Sebuah pengalaman yang luar biasa selama 5 hari 4 malam menjelajahi masjid-masjid berukuran gigantis hingga masjid berukuran mini, bertemu beragam orang dan budaya, merasakan kerasnya Pantura, dan pengalaman lain yang tentunya lebih baik dirasakan langsung ketimbang diceritakan. (Lanjut di Epilog)

  • Share:

You Might Also Like

0 comments