Jalan-Jalan Masjid #6: Pantura Berirama!

By Padu Padan Kata - 1:03 AM

Cerita perjalanan ini merupakan cerita perjalanan yang dilakukan kurang lebih 2 tahun yang lalu, apabila ada ketidakakuratan dengan kondisi di lapangan mohon dimaklumi karena hanya ditulis seingat-ingat penulis. Apabila teman-teman semua ingin mengetahui perjalanan saya dan teman-teman dari awal, sila membuka tautan berikut. Selamat membaca!

Senin, 7 Juli 2014 (Pantura - Semarang)
Bus kecil yang kami tumpangi bergetar keras menggilas aspal beton Jalur Pantura. Beberapa suara berdecit terdengar dari sudut-sudut bus. Raungan mesin bus dan decit bodi bus yang bercampur dengan musik dangdut koplo menambah keseruan perjalanan kami menuju Semarang. Ah, Pantura memang istimewa.

Suasana di dalam bus kecil yang membawa kami menuju Semarang
Sekonyong-konyong, masuklah seorang bocah bertubuh gempal ke dalam bus kecil yang kami tumpangi beberapa saat menjelang memasuki Kota Semarang. Si bocah pun langsung memosisikan diri di dekat pintu bus sembari memasang kuda-kuda dengan bersandar di pintu tengah bus. Dengan bermodal kecrekan krincing-krincing, si bocah menarik napas dalam-dalam.

1 2 3

Bersenandunglah si bocah itu, bersatu padu dengan dentuman kendang dan nyanyian biduan yang tidak nyambung sama sekali dari musik yang diputar si sopir dan kernet.

Kami yang duduk di bangku baris belakang pun menikmati senandung bocah ini meskipun beberapa kali kalah ciamik dari nyanyian sang biduan dangdut yang melantun nyaring dari speaker bus. Di akhir “pertunjukan”, salah satu dari kami memberikan sekeping uang 1000-an sebagai tanda jasa.
Si bocah pengamen
Seusai berkeliling meminta “imbalan” atas nyanyiannya, si bocah langsung duduk di pintu belakang bus kecil. Kakinya menggelayut keluar, menggantung di atas pintu. Sesekali kakinya memainkan ombak kecil akibat banjir yang menggenangi jalan. Si bocah pun lantas menyanyi-nyanyi, mungkin untuk menghilangkan rasa bosan dia. Saya dan teman-teman yang menyaksikan adegan ini pun terkekeh-kekeh. Si bocah tidak peduli dengan kekehan kami dan tetap dengan gaya bodo-amat-siapa-lu-bukan-urusan-gua terus bersenandung dengan suara cemprengnya.

Tak berapa lama, bus pun akhirnya tiba di kawasan Kota Lama Semarang. Bocah kecil tadi juga turun berbarengan dengan kami dan langsung menghilang di tengah kemacetan lalu lintas. Bus yang kami tumpangi ini langsung menuju kota Semarang dan tidak berhenti di Terminal Terboyo. Kawasan Kota Lama Semarang ini menjadi check point kami untuk menuju Stasiun Semarang Tawang, tempat pemberangkatan kami menuju Cirebon.


Untuk menuju ke Stasiun Semarang Tawang, kami harus berjalan kaki sejauh 250 meter dari tempat kami diturunkan. Saya pun tidak banyak mengambil gambar di kawasan ini layaknya turis yang senang berpose oldies dengan latar bangunan-bangunan kota lama. Namun dari beragam jenis bangunan yang saya amati, ada satu bangunan yang saya rasa cukup aneh. Bangunan ini memiliki gupolo berupa dua semut rang-rang dalam posisi siap menggigit. Niscaya dalam posisi ini, si semut bakal bikin si orang yang digigit bentol besar sampai seminggu.
Gedung Marabunta yang super keren abis
Usut punya usut, setelah berupaya menjelajah di situs serba ada bernama Google, gedung semut rang-rang itu bernama gedung Marabunta. Entah apa maksud dan latar belakang si pembikinnya, namun saya menganggap bangunan ini menjadi bangunan terkeren yang pernah saya lihat gara-gara dua semut rang-rang itu.


Suasana di kawasan Kota Lama Semarang, kurang terurus pada saat itu
Kami tiba di Semarang Tawang sekitar pukul 5, masih ada kurang lebih 45-50 menit menjelang waktu berbuka. Kami pun masuk untuk sekadar merebahkan badan dan mencetak tiket kereta yang sebelumnya telah kami pesan ketika kami berkunjung ke MAJT (baca di Jalan-Jalan Masjid #1: Sebuah Perjalanan). Setengah jam menjelang azan Maghrib, kami pun meninggalkan Stasiun Semarang Tawang untuk mencari Ta’jil. Beruntungnya seorang petugas keamanan berbaik hati menunjukkan kami masjid di dekat stasiun. Dari penjelasan beliau, saya dapat menyimpulkan bahwa masjid ini merupakan masjid besar. Masjid besar berarti menyediakan hidangan Ta’jil secara gratis alias percuma alias free! Maka berangkatlah kami menuju masjid tersebut untuk berbuka puasa.
Stasiun Semarang Tawang, bangunannya masih orisinil boi!
Masjid Az Zahra, begitu kata dinding nama yang berada di depan masjid. Masjid ini pun ukurannya cukup besar dengan bentuk bangunan tanpa sekat dalam maupun sekat luar, kecuali pada bagian belakang masjid. Sepintas dapat dibilang mirip hall terbuka.
Masjid Az-Zahra Semarang
Saat itu waktu sudah kurang dari 10 menit menjelang berbuka puasa. Kami datang lumayan terlambat. Masjid sudah dipenuhi oleh banyak jemaah yang sudah bersiap untuk berbuka puasa bersama. Kami pun berupaya mencari tempat-tempat kosong untuk kami duduk namun nihil. Kondisi pun sedikit menjadi chaos ketika azan berkumandang. Jemaah yang tidak kedapatan tempat duduk mulai memenuhi area sumber konsumsi. Kami pun cukup beruntung mendapatkan segelas air mineral dan beberapa buah kurma untuk berbuka puasa.

Sehabis menunaikan shalat maghrib, kami pun berunding untuk mencari tempat makan malam yang bisa kami jangkau. Namun tanpa diduga, Masjid Az Zahra ini pun lagi-lagi menjadi penyelamat kami dalam memenuhi kebutuhan perut kami. Ketika jemaah berbuka puasa dan shalat maghrib sudah berangsur-angsur pergi, pengurus masjid tiba-tiba mengeluarkan kotak-kotak makanan untuk dibagikan. Perut pun kenyang dengan hidangan nasi kotak ditambah sebuah pisang sebagai penutup.

Tak lama, azan isya berkumandang, jamaah pun lantas membentuk barisan saf. Shalat isya rampung dilaksanakan, saatnya shalat tarawih. Namun karena ternyata jamaah Masjid Az-Zahra yang menganut paham solat Tarawih 23 Rakaat, maka kami urung melaksanakannya hingga usai dan memilih solat tarawih 8 rakaat ditambah witir 3 rakaat. Selain itu kereta Menoreh yang membawa kami ke Cirebon juga berangkat pukul 9 malam.

***
Tepat pukul 9, lokomotif CC-206 bikinan General Electric berdesis pelan, melaju dengan perlahan. Roda-roda besi kereta ikut berputar perlahan seiring dengan meningginya deru lokomotif. Sayup-sayup suara roda beradu dengan rel kereta melelapkan kami berempat. Cirebon menanti 235 kilometer di barat sana.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments