Jalan-Jalan Masjid #4: Kontemplasi Subuh di Kudus

By Padu Padan Kata - 1:48 AM


Cerita perjalanan ini merupakan cerita perjalanan yang dilakukan kurang lebih 2 tahun yang lalu, apabila ada ketidakakuratan dengan kondisi di lapangan mohon dimaklumi karena hanya ditulis seingat-ingat penulis. Apabila teman-teman semua ingin mengetahui perjalanan saya dan teman-teman dari awal, sila membuka tautan berikut (Kudus) dan berikut (awal banget). Selamat membaca!

Senin, 7 Juli 2014 (Kudus - habis)
Malam masih pekat. Samar-samar, sesekali terdengar raungan knalpot sepeda motor dan mobil yang melintas di Jalan Kudus. Hawa dingin yang menusuk tulang menyadarkan saya dan teman-teman dari lelap. 

Sama seperti istirahat malam sebelumnya, saya hanya tidur ayam-ayam dan hanya sesekali benar-benar tertidur. Cukupkah? Tentu tidak. Ketika terbangun, saya mendapati dua pria sedang mendengkur ria tepat bersebelahan dengan lapak tidur kami. Hmm rupanya bukan kami saja yang sedang Jalan-Jalan Masjid.

Kegiatan sahur menjadi kegiatan pembuka saya dan teman-teman untuk mengawali Jalan-Jalan Masjid Hari ke-3. Saya dan teman-teman sebelumnya sudah menyepakati lokasi sahur kami di warung yang sama ketika kami makan malam kemarin. Alasannya, karena perut kami sudah cocok, sesuai dengan kocek, dan malas mencari tempat makan lain. Untungnya sebelum kami meninggalkan warung, Alan sempat bertanya kepada bapak penjaga warung perihal sahur-menyahur. 

Setelah dirasa sudah cukup melek, saya pun merapikan paket kombo saya dan saya masukkan ke dalam tas ransel saya yang senantiasa menampung iler saya ketika istirahat malam.

Saya tidak ingat jelas suasana Jalan Kudus dini hari itu, selain trotoar Jalan Kudus yang mulus dan lebarnya pas untuk kami berjalan. Tapi saya ingat suasana di sekitar perempatan Jalan Kudus dan Jalan Menara saat itu lumayan ramai. Mungkin karena penduduk sekitar tengah bersiap untuk sahur. Sesampainya di warung nasi, kami langsung memesan menu sahur sesuai selera kami. Saya pun memilih menu yang sama dengan yang saya pesan kemarin malam karena cukup pas untuk menyetok energi saya untuk perjalanan hari ini. Sahur pagi itu ditutup dengan segelas air putih hangat dan sebutir vitamin.

Nah ini Warung Makan Tambah Mulyo yang jadi penyelamat kami di saat sahur
Kegiatan sahur kami sudahi pada pukul 3. Sebenarnya kami ingin berlama-lama di warung untuk sekadar duduk-duduk sambil menunggu waktu imsyak. Terlebih imsyak kalau tidak salah pada pukul 4.20-an. Namun lambat laun pengunjung warung terus memenuhi warung sehingga kami harus mengangkat pantat kami dari warung. Kami pun melangkahkan kaki menuju Masjid Menara untuk menantikan imsyak dan subuh. Sama seperti shalat-shalat sebelumnya, saat subuh pun saya masih mendapati jamaah masjid menggunakan “formasi” seperti shalat-shalat sebelumnya.

Tidur ayam-ayam yang saya yakini sebagai solusi istirahat malam saya rupanya kurang manjur. Mata saya rupanya tidak dapat diajak berkompromi. Usai subuh saya lantas beringsut ke bagian belakang masjid untuk sekadar memejamkan mata sekaligus berbaring. Namun seperti layaknya masjid-masjid besar pada umumnya, seusai shalat subuh dan doa, pengurus masjid menggelar acara kajian subuh atau ceramah pagi. Alhasil saya pun yang hendak tidur-tiduran di lantai terpaksa tidur dengan kondisi duduk bersila agar terlihat “mendengarkan” ceramah pagi.

Saya tidur lumayan nyenyak meskipun dalam kondisi bersila. Tas ransel yang saya bawa saya peluk sehingga menjadi senderan bagi kepala saya. Dalam kondisi yang tidur-super-nyenyak-dengan-posisi-duduk-sila, saya merasakan lutut saya beradu dengan lutut seseorang. Weh, ganggu orang enak-enak tidur aja nih. Saya pun mengubah posisi sila saya dan menggeser tempat duduk saya. Tanpa dinyana, lutut saya pun bersentuhan lagi dengan orang lain yang duduk di samping saya. Saya pun membuka mata dan… 

Aduhai sinar terang apakah itu! Saya pun juga baru ngeh kalau saja jemaah di masjid sudah bertambah hingga memenuhi seluruh ruangan masjid. Di samping mimbar yang berada di bagian depan nampak seorang kiai berusia cukup senja tengah memberikan tausyiah kepada jemaah. Saya yang kaget pun mencoba mengendalikan diri dan langsung keluar dari ruangan masjid, mencari teman-teman saya yang hilang entah kemana. 

Suasana Kajian Subuh Masjid Menara
Tidak sampai di situ, jemaah pun rupanya tidak hanya memenuhi ruangan masjid, namun juga hingga jalan di depan masjid. Beruntungnya saya menemukan teman-teman saya tengah duduk-duduk di selasar masjid. Rupa-rupanya setelah saya browsing sepulang dari J2M, saat itu Masjid Menara tengah mengundang salah satu kiai yang lumayan disegani di Kudus untuk melakukan kajian subuh. Pantaslah apabila jemaah yang datang berkunjung hingga memenuhi sebagian Jalan Menara. Wew, saya sendiri masih merinding menyaksikan ribuan jemaah yang memadati Masjid Menara hingga Jalan Menara.

Saya yang sedari kemarin belum melihat secara menyeluruh kawasan Masjid Menara, memutuskan untuk berkeliling melihat kawasan masjid, tentunya setelah menitipkan tas ransel kepada teman-teman dan berjinjit-jinjit melewati jemaah yang memenuhi sebagian jalan Menara. Tidak banyak yang saya lihat dalam perjalanan pagi itu dan suasana pun relatif lumayan lenggang. Dalam jalan-jalan pagi saya, saya menemukan sebuah masjid kecil yang kosong. Saya pun menyempatkan untuk tidur di dalam masjid sembari tidur untuk mengurangi kantuk dan men-charge hp. 

Toa Masjid Menara Kudus
Sekembalinya saya ke Masjid Menara, kajian subuh sudah usai dan teman-teman pun tengah bersiap-siap untuk menuju ke Demak. Urusan bersih-bersih tentu kami lewatkan karena ketiadaan kamar mandi. Lagi-lagi kami hanya mewangikan badan kami dengan sebotol Axe Chocolate yang menemani kami sedari sore kemarin dan menggosok gigi. Sekitar pukul 9 kami bergegas meninggalkan Masjid Menara untuk bertolak ke destinasi berikutnya, Demak.
***
Kudus memberikan memori tersendiri bagi saya. Kota yang saya nikmati hanya sebagian saja ini, saya rasa cukup memberikan gambaran bahwa Kudus benar-benar menyimpan banyak cerita khususnya bagaimana penyebaran agama Islam oleh Sunan Kudus. Kudus pun juga memberikan pengalaman baru bagi saya dengan segala keunikan yang saya temukan dan saya rasakan. Jadi, ya saya pun akhirnya ngeh bahwa Kudus bukan hanya soal Jenang Kudus atau Sate Kerbaunya, tapi lebih dari itu.

Pengembara Jalan-Jalan Masjid
NB: Jalan-jalan ketika sedang puasa memang melelahkan. Nah maka dari itu, sebelum melakukan jalan-jalan, sebaiknya setelah sahur mengonsumsi vitamin dan minum air putih yang cukup ketika malam hari. Kalau ada kurma, bisa juga dikonsumsi pas sahur. Kurma lumayan juga kok buat menyetok energi jalan-jalan kalian.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments